Mengenal Karakter Sahabat Kecil

Emang lo punya sahabat kecil ? Apaansii iya iyalah punya, masa engga, emang lu kira gue tinggal di Bintang gitu yang kaga ada manusia nye.. (cuman pengen mengekspresikan sedikit dialeg orang sini)

Iya dulu saya punya teman masa kecil yang sebenarnya banyak banget intinya sekampung halamanlah, tetapi ada beberapa orang yang ingin saya ceritakan mengenai sahabat kecil saya dulu, khususnya yang seangkatan dengan saya. Sahabat kecil bukan berarti cuman sahabat waktu kecil doang ya, namun hingga sekarang ini. Cuman ceritanya jauh sangat berbeda dengan sekarang, bagaimana pun juga kami memeliki jalan hidup masing-masing jadi sekarang menjelajahi hidup di bumi yang berbeda juga. Sulit untuk bertemu dan berkumpul seperti dulu.  Dulu kami satu sekolah mulai dari SD hingga SMP, tepatnya di SDK Pacar dan SMP N 1 Macang Pacar angkatan tahun 2003-2012.

Yang pertaman sahabat saya bernama Yohana Surniko Ratna Wati yang biasa disapa Ratna, dia memiliki postru tubuh langsing, tinggi dan rambut panjang yang membuat dia terlihat anggun walau tampak mukanya yang galak dicampur jutek namun jika tersenyum maka bunga putri malu pun langsung mekar kembali hahahha. Yang berikutnya bernama Petronela Meji biasa disapa Rolen atau Ipin hahah maaff ee J. Di memiliki postru badan yang mungil dan imut serta wajah yang keliatan manis dan kulit exotic. Dulu dia cewek pendiam semasa kecilnya namun karena sekarang suka berperan menjadi ipin haha akhirnya tingkahnya berubah dan cerewet seperti ipin hahah becanda maksud saya sekarang kan udah dewasa setiap hari pasti selalu berubah dalam segala hal.  Lalu  ada juga sahabat saya bernama Reliana Ijen disapa Reli atau Upin, bisa dibilang ini adalah anak dari Gunung Ijen hhh. Mungkin diberi nama Ijen supaya  kelak bisa menjadi orang yang sukses setinggi gunung Ijen atau mungkin ada arti dalam bahasa lain yang lebih bermakna. Kemudian satu orang lagi namanya Natalia Maju. “Natalia” means that she was born at the day after Christmas Day and “Maju” it’s mean that something  never give up. Dulu sesama kami suka menyapa dia dengan panggilan Cemong aatau kadang-kadang tiang listrik karena dia lebih tinggi dari antara kami, maapp Liand.

Dulu banyak sekali hal-hal yang kami lakukan dalam mengisi masa kecil kami di kampung halaman. Saya masih ingat dulu ketika pulang sekolah, kami suka jalan bersama dan bercanda ria dengan suara teriakan yang menemani kesepian jalan raya sepanjang Herang (Lokasi sekolah) hingga kampung Pacar. Berseragam merah putih, buku tersimpan dalam kresek (biasanya senang dengan kresek sandal yang bekas untuk menyimpan buku tulis dengan ciri-cirinya yang simple dan baik untuk melindungi buku tulis dan peralatan lainnya) dan beralaskan dengan sandal jepit (dulu kami tidak menggunakan sepatu saat maih SD kecuali ada perayaan Nasional). Pulang sekolah tanpa ada batas mulut selalu berkomat kamit dengan muka polos yang membawa kebahagiaan tersendiri.  Salah satu diantara kami yang suaranya paling besar dan tinggi adalah Ratna, sedangkan Lian, saya, Upin Dan Ipin memiliki suara yang agak melengking. Kebersamaan sekolah tersebut berlangsung selama  9 tahun dan bercanda ria sepanjang  perjalanan juga pun begitu.

Dulu juga kami suka mencari serta mengumpulkan kayu  bakar bersama. sekeliling  rumah di perkampungan saya  pasti dikelilingi pepohonan seperti pohon kopi, cokelat, kelapa, bambu, akasia, dan hutan yang meluas sekitar 1 km dari rumah. Hadeuuhh kampung saya emang bener-bener suasana kampung banget deh, pokoknya  kalo kalian yang sedang membaca ini pengen dan berkunjung kesana  pasti bakal nyaman. Kalian akan jauh banget dari keramaian kota yang sempit penuh dengan polusi. Apa lagi yang suka banget sama kehidupan desa huuhhff ayulahh dateng ke kampung saya. “My Darling is My Home”. Cari kayu bakar sudah menjadi kebiasaan bagi kami, anak perempuan di kampung membantu orang tua dengan berbagai cara: mengumpulkan kayu bakar di kebun atau hutan, masak, menyiapkan  makanan babi (hampir semua rumah tangga memiliki peliharaan babi dan memang mayoritas beragama Katolik), mencuci, mebersih rumah, menanam padi, membersih kebun, lahh pokoknya buanyaak. Yaaa saya rasa itu ajaran yang baik, sehingga kami bisa menjadi orang yang pekerja keras, bertanggung jawab, belajar untuk hidup rumah tangga, mandiri dan mencintai orang tua.

Mainnya kapan? Dimana?

Kami  sebenarnya bermain di mana pun kami berkumpul, bersama bahkan saat mengumpulkan kayu bakar pun juga kita akan selipkan dengan bermain. Di tengah kampung saya terdapat  sebuah Compang yang artinya altar. Tempat ini tersusun batu unik yang bentuknya bundar lalu dikelilingi taman bundar juga dan paling luarnya ditutup dengan susunan batu juga. Batu bundar yang tersusun rapih ini konon berdasarkan cerita rakyat disusun oleh nenek moyang zaman dulu dan memiliki arti yang mendalam. Dan memang batu bundar yang tersusun rapih ini bukan hanya di kampung saya namun juga terdapat di beberapa tempat di Manggarai.  Compang digunakan sebagai tempat persembahan kepada Tuhan pada saat upacara  adat tertentu. Nah, kami biasanya main di sekitar tempat tersebut, karena pada setiap sore hari anak-anak suka berkumpul  di situ dan bermain, bersuka ria masa kecil yang amat sangat indah.

 

sekarang aku juga punya temen-temen yang cakep-cakep bisa diajak berteman, mau tau klik adja disini

Jika anda berminat untuk mencari tahu kisah-kisah lain, yukk ikuti terus blog aku dan jangan lupa dilike yaa heheheh Terima kasih.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s